Kuingat ada seorang dosen yang selalu membuatku geli dalam memberikan nilai ujian. Enam belas pertemuan yang dijadwalkan dalam satu semester perkuliahan sering dilakukan dengan empat belas pertemuan yang dilibiurkan, satu pertemuan kuliah dan satu pertemuan untuk ujian. Nilai ujian baru dikeluarkan setelah 1-2 tahun kemudian. Itupun kalau lagi beruntung. Kalau tak cukup beruntung, berkas ujian kita bisa hilang tak berbekas. Masalah menjadi serius kalau nasib belum menentu kala dihadapkan pada sidang sarjana. Mungkin aku cukup beruntung karena setahun setelah mengikuti perkuliahannya, sang dosen digantikan oleh personil dosen lain, dan akupun mengiuti perkuliahan yang sama pada tahun tersebut tanpa menunggu nasib yang terlalu banyak unsur ketidakpastiannya. Benar saja...aku dikasih nilai C sesaat sebelum sidang sarjana. Beruntung aku sudah punya nilai A dari dosen baru. Jadi...vitamin C tersebut tak berlaku untukku karena nilai tertinggi-lah yang digunakan.
Tapi tak semua orang bisa mujur, contohnya dialami Sandy dan si fulan (sori....aku lupa namanya...soalnya bukan temen seangkatanku). Pada saat diberi nilai, Sandy kecewa dengan nilai D, sementara si fulan lulus dengan nilai C. Padahal...mereka berdua satu guru satu elmu alias punya sumber contekan yang sama. Entah ramuan apa yang membuat Sandy berani menghadapi sang dosen dengan melibatkan kertas ujian milik si fulan. Diapun protes dengan mengatakan bahwa jawaban yang dia buat tidak berbeda dengan si fulan, tapi mengapa nilainya berbeda. Dengan asam uratnya yang lagi kambuh, rasa sakit yang bikin kesal dan tak ada minat melirik kertas ujian, sang dosen cukup mengatakan,"ya sudah.. saya beri kamu nilai C dan bilang temanmu kunaikkan nilainya menjadi B". Sandy melongo...doi protes lagi: "Pak....kenapa nilainya berbeda? kan jawabannya persis sama...." Sang dosen menjawab sambil mengurut kakinya "kalau begitu panggil temanmu!". Dihadapkanlah barang bukti baru berupa si fulan. "Benar jawaban ujianmu sama dengan milik temanmu?" tanya sang dosen. Si fulan menjawab "enggak tahu pak....saya nggak nyontek sama dia, saya nyontek sama si Icut". Sang dosen-pun terperanjat. "Baiklah kalau begitu, saya ganti nilai kamu menjadi A dan nilai si Sandy menjadi E". Muka Sandy memerah karena harus menelan pil pahit tersebut. Si fulan menjadi ge-er sumringah tak karuan. Hidungnya kembang kempis layaknya kodok bernyanyi. Sandy-pun harus menunggu 1-2 tahun lagi untuk lulus.......
Begitulah temans...walaupun aneh....si dosen kayaknya lebih cocok jadi guru BP dibanding jadi dosen mata kuliah gelombang.
Tapi tak semua orang bisa mujur, contohnya dialami Sandy dan si fulan (sori....aku lupa namanya...soalnya bukan temen seangkatanku). Pada saat diberi nilai, Sandy kecewa dengan nilai D, sementara si fulan lulus dengan nilai C. Padahal...mereka berdua satu guru satu elmu alias punya sumber contekan yang sama. Entah ramuan apa yang membuat Sandy berani menghadapi sang dosen dengan melibatkan kertas ujian milik si fulan. Diapun protes dengan mengatakan bahwa jawaban yang dia buat tidak berbeda dengan si fulan, tapi mengapa nilainya berbeda. Dengan asam uratnya yang lagi kambuh, rasa sakit yang bikin kesal dan tak ada minat melirik kertas ujian, sang dosen cukup mengatakan,"ya sudah.. saya beri kamu nilai C dan bilang temanmu kunaikkan nilainya menjadi B". Sandy melongo...doi protes lagi: "Pak....kenapa nilainya berbeda? kan jawabannya persis sama...." Sang dosen menjawab sambil mengurut kakinya "kalau begitu panggil temanmu!". Dihadapkanlah barang bukti baru berupa si fulan. "Benar jawaban ujianmu sama dengan milik temanmu?" tanya sang dosen. Si fulan menjawab "enggak tahu pak....saya nggak nyontek sama dia, saya nyontek sama si Icut". Sang dosen-pun terperanjat. "Baiklah kalau begitu, saya ganti nilai kamu menjadi A dan nilai si Sandy menjadi E". Muka Sandy memerah karena harus menelan pil pahit tersebut. Si fulan menjadi ge-er sumringah tak karuan. Hidungnya kembang kempis layaknya kodok bernyanyi. Sandy-pun harus menunggu 1-2 tahun lagi untuk lulus.......
Begitulah temans...walaupun aneh....si dosen kayaknya lebih cocok jadi guru BP dibanding jadi dosen mata kuliah gelombang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar